Photo by Noureddine Belfethi on Unsplash |
Hijrah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari Makkah menuju Madinah merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Peristiwa tersebut bukan saja tentang perpindahan tempat, tetapi juga sebuah fase perjuangan yang penuh dengan pengorbanan, kesabaran, kecerdasan, dan tawakal kepada Allah.
Dalam perjalanan hijrah itu, banyak tokoh yang memiliki peran besar, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan. Salah satu sosok perempuan yang namanya selalu dikenang adalah Asma’ binti Abi Bakr ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhā, seorang sahabiyah mulia yang mendapatkan gelar Dzāt an-Nithāqain (pemilik dua ikat pinggang).
Gelar tersebut diberikan ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ayahnya, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu, bersiap meninggalkan Makkah untuk berhijrah. Asmā’ membantu menyiapkan bekal perjalanan mereka. Ketika itu, ia tidak menemukan sesuatu yang dapat digunakan untuk mengikat tempat makanan dan minuman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Maka ia melepas ikat pinggangnya, kemudian membelahnya menjadi dua bagian. Satu bagian digunakan untuk mengikat wadah makanan, sedangkan bagian lainnya tetap digunakan sebagai ikat pinggang. Karena kejadian itulah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberinya gelar:
ذَاتُ النِّطَاقَيْنِ
"Perempuan pemilik dua ikat pinggang."
Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memutuskan berhijrah bersama Abu Bakar radhiyallāhu ‘anhu, kaum Quraisy melakukan berbagai upaya untuk menggagalkan perjalanan tersebut. Mereka mencari informasi tentang keberadaan Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar.
Dalam kondisi yang penuh bahaya itu, Asmā’ memainkan peran penting. Ia mengetahui rahasia perjalanan hijrah, tetapi ia menjaga amanah tersebut dengan penuh tanggung jawab.
Dikisahkan bahwa ketika orang-orang Quraisy mendatangi rumah Abu Bakar untuk mencari informasi, mereka bertanya kepada Asmā’ tentang keberadaan ayahnya. Dengan keberanian dan kecerdasannya, ia tidak membuka rahasia yang telah dipercayakan kepadanya.
Sikap Asmā’ menunjukkan bahwa menjaga amanah merupakan bagian dari keimanan. Ia menghadapi tekanan itu dengan keberanian fisik sekaligus kecerdasan yang tajam.
Kisah Asmā’ menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam perjalanan dakwah Islam. Ia bukan sekadar menjadi pendukung dari belakang, tetapi turut mengambil bagian dalam momen-momen besar yang menentukan sejarah umat.
Dalam usia yang masih muda, Asmā’ menghadapi situasi yang sangat sulit. Ia membantu Rasulullah ﷺ, ayahnya, dan kaum muslimin dengan kemampuan yang dimilikinya.
Keberaniannya muncul karena keyakinan yang kuat kepada Allah. Ia memahami bahwa perjuangan menegakkan agama membutuhkan pengorbanan dari setiap individu sesuai kemampuan masing-masing.
Dari kisah Asmā’ binti Abu Bakar radhiyallāhu ‘anhā terdapat banyak pelajaran penting:
1. Amanah adalah karakter seorang mukmin
Asmā’ menunjukkan bahwa menjaga rahasia dan kepercayaan merupakan bentuk ketaatan kepada Allah. Dalam perjuangan besar, amanah menjadi salah satu faktor penting keberhasilan.
2. Perempuan memiliki kontribusi besar dalam sejarah Islam
Sejarah Islam tidak hanya dibangun oleh para pejuang laki-laki. Banyak perempuan yang memberikan kontribusi besar, baik dalam ilmu, dakwah, maupun perjuangan sosial.
3. Kecerdasan diperlukan dalam menghadapi tantangan
Asmā’ tidak hanya berani, tetapi juga cerdas membaca keadaan. Ia mampu bertindak tepat dalam situasi yang penuh tekanan.
4. Pengorbanan kecil dapat menghasilkan dampak besar
Tindakan membelah ikat pinggang mungkin terlihat sederhana, tetapi menjadi simbol pengorbanan yang dikenang sepanjang sejarah.
Kisah Asmā’ binti Abu Bakar radhiyallāhu ‘anhā adalah salah satu lembaran indah dalam sejarah hijrah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Gelar Dzāt an-Nithāqain bukan hanya penghormatan atas sebuah peristiwa kecil, tetapi menjadi simbol keteguhan iman, keberanian, kecerdasan, dan pengorbanan seorang muslimah.
Hijrah mengajarkan bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya bergantung pada satu orang, tetapi merupakan hasil kerja sama orang-orang yang memiliki keimanan kuat dan kesediaan berkorban di jalan Allah.[]
Ref:
- من ذكريات الهجرة: ذات النطاقين -
الأستاذ الشيخ/ محمد محمد أبو شهبة
Komentar