Memaknai Hijrah Nabi: Refleksi Sosiologis Transformasi Peradaban

Iklan Semua Halaman

Memaknai Hijrah Nabi: Refleksi Sosiologis Transformasi Peradaban

Photo by djonk creative on Unsplash


Setiap awal tahun Qamariyah, ingatan umat Muslim dunia kembali tertuju pada peristiwa agung: Hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah Al-Munawwarah. Lebih dari sekadar perpindahan geografis, momen ini menyimpan pelajaran mendalam yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika sosial.


Profesor Muhammad Farid Wajdi dalam ulasannya membedah peristiwa besar ini melalui kacamata ilmu sosial. Menurutnya, ada fenomena unik yang membuktikan kebenaran risalah kenabian ketika diletakkan di bawah analisis sosiologis.


Lahir dari Lingkungan yang Belum Matang


Secara sosiologis, sebuah masyarakat membutuhkan waktu berabad-abad untuk berevolusi dari kabilah yang terpecah menjadi umat yang solid. Namun, sejarah mencatat sebuah lompatan luar biasa pada bangsa Arab. Sebelum Islam, mereka hidup dalam sekat kabilah yang rapuh, terikat tradisi jahiliyah, dan terjebak dalam lingkaran konflik turun-temurun.


Ketika Nabi ﷺ membawa konsep tauhid dan tatanan nilai yang baru, penolakan keras pun muncul. Kaum Quraisy menolak total dakwah tersebut karena dianggap meruntuhkan warisan nenek moyang mereka. Penolakan dan keheranan kaum kafir ini diabadikan dalam Al-Quran:


وَعَجِبُوٓا أَن جَآءَهُم مُّنذِرٌ مِّنْهُمْ ۖ وَقَالَ ٱلْكَـٰفِرُونَ هَـٰذَا سَـٰحِرٌ كَذَّابٌ ﴿٤﴾ أَجَعَلَ ٱلْـَٔالِهَةَ إِلَـٰهًا وَٰحِدًا ۖ إِنَّ هَـٰذَا لَشَىْءٌ عُجَابٌ ﴿٥﴾


"Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka sendiri; dan orang-orang kafir berkata: 'Orang ini adalah seorang pesihir yang banyak berdusta'. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan." (QS. Sad: 4-5)


Resistensi total dari kaum Quraisy ini menjadi bukti nyata bahwa lingkungan tersebut secara psikologis sama sekali belum siap melakukan revolusi moral dari dalam diri mereka sendiri.


Perintah Menyampaikan Dakwah Secara Terbuka


Meski menghadapi tekanan, Allah SWT memerintahkan Nabi-Nya untuk keluar dari fase dakwah sembunyi-sembunyi. Melalui surah Al-Hijr, Nabi ﷺ diperintahkan untuk berdakwah secara terang-terangan dan mengabaikan cemoohan kaum musyrik:


فَٱصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْمُشْرِكِينَ ﴿٩٤﴾ إِنَّا كَفَيْنَـٰكَ ٱلْمُسْتَهْزِءِينَ ﴿٩٥﴾


"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokan(mu)." (QS. Al-Hijr: 94-95)


Ayat ini menjadi bahan bakar spiritual bagi Nabi ﷺ untuk terus melangkah, meskipun risiko yang dihadapi adalah ancaman pembunuhan dari kabilahnya sendiri.


Komitmen Sukarelawan yang Melawan Logika


Titik balik krusial terjadi saat musim haji, ketika Nabi ﷺ bertemu dengan penduduk Madinah dari suku Aus dan Khazraj. Melalui baiat yang dilakukan dalam kegelapan malam, sekitar 70 orang menyatakan kesiapan memeluk Islam dan membelanya, meski harus berhadapan dengan risiko permusuhan dari seluruh dunia.


Dari sudut pandang sosiologi, ada keajaiban sosial dalam komitmen ini:


Yang pertama, adalah adanya rekonsiliasi kultural, bersatunya faksi Arab (Aus & Khazraj) di bawah kepemimpinan figur Adnan, yang akhirnya meruntuhkan rivalitas sejarah mereka.


Keajabiban kedua, adalah munculnya keberanian kolektif. Sekelompok kecil manusia berani memikul risiko menghadapi boikot dan konfrontasi global.


Ketiga, adanya keyakinan akan imbalan transendental. Mereka tidak meminta takhta atau harta, melainkan hanya mengharapkan surga sebagai imbalan.


Terwujudnya Janji Kemenangan


Hijrah pada akhirnya menjadi jembatan bagi terwujudnya janji kemenangan. Peristiwa ini berhasil mengubah masyarakat yang awalnya berada di era kegelapan menjadi fondasi peradaban baru yang dikagumi dunia


Keberhasilan tak tertandingi dalam hitungan tahun yang singkat ini menegaskan bahwa ada intervensi spiritual dan dukungan Ilahi yang mampu melampaui hukum alam kemanusiaan.


Di akhir zaman, pola sosiologis itulah yang juga sangat dibutuhkan oleh umat Islam sebagai salah satu pilar bangkitnya peradaban. Suatu kerja berat--bahkan keajaiban, yang mustahil tercapai kecuali didasari pada keimanan terhadap wahyu dan ketaqwaan kepada Sang Pencipta. []



Referensi: 


- ذكرى الهجرة النبوية - للأستاذ محمد فريد وجدي (مجلة الأزهر عدد المحرم ١٣٥٤ هـ)