Sunnatullah tentang Jatuhnya Para Tiran dan Bangkitnya Umat

Iklan Semua Halaman

Sunnatullah tentang Jatuhnya Para Tiran dan Bangkitnya Umat

Minggu, 12 April 2026

Photo by Felix Mittermeier on Unsplash

Oleh: Prof. Gamal Abd Sattar*


Kezaliman Tidak Memiliki Agama


Kezaliman itu tidak punya agama. Sekalipun mengaku-aku dengan dalil tertentu, perbuatan zalim tetap tidak bisa mendapat legitimasi. Ia tidak lahir dari kemanusiaan, apalagi ketuhanan.


Al-Quran memandang, kezaliman adalah bentuk penyimpangan terhadap tatanan moral yang ditegakkan Allah di bumi. Ia bentuk perusakan terhadap sunnah, hukum, atau pola dasar yang mengatur kehidupan manusia. Karena itu, akibat yang menimpa orang-orang zalim akan selalu berulang sepanjang sejarah. Ada sunnatullah yang berlaku.


Untuk mengingatkan itu Allah berfirman, "Dan jangan sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.” (Qs. Ibrahim: 42).


Kejahatan itu bisa jadi hilang jejaknya. Manusia mungkin saja lupa sejarahnya. Tapi ada catatan Allah yang tidak pernah keliru, sebagaimana Allah jaminkan, "Dan Tuhanmu tidaklah lupa," (Qs. Maryam: 64). Allah juga berfirman: “Allah menghitung semuanya, sementara mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Al-Mujadalah: 6).


Ini adalah kaidah Qurani yang penting dalam memahami sejarah, yaitu bahwa perjalanan umat manusia bukanlah kekacauan tanpa arah. Jatuh-bangun kekuatan-kekuatan dunia bukan terjadi tanpa makna. Semua peristiwa tunduk pada hukum moral, alias sunnah ilahiyah atau hukum ilahi yang senantiasa berjalan.


Alam semesta ini bukan medan konflik yang acak, sebagaimana penciptaannya juga bukan rangkaian kebetulan yang terserak. Ini adalah ruang ujian moral di mana keadilan Allah adalah nyata, keteraturan-Nya selalu mutlak.


Hukum universal itu Allah sebutkan dalam ayat-Nya, “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7).


Di lain bagian, Al-Qur'an juga menetapkan prinsip moral utama yang mengatur kehidupan sosial manusia, yaitu bahwa kezaliman haram, dan hukumnya tidak berubah, meskipun pelakunya berganti atau bahasanya berubah.


Prinsip itu tergambar dari arahan tegas, “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah: 8).


Orang yang pesimis memprediksi kekuatan-kekuatan dzalim akan berkuasa penuh, merusak fitrah, menghilangkan norma, dan berlaku sesukanya. Kebenaran hanya akan menjadi korbannya. Buktinya mereka unggul dengan ilmu yang Allah titipkan, sementara para pengikut kebenaran menciut saja di bayang-bayangi inferioritas.


Pesimisme itu lahir dari kealpaan memahami sunnatullah dalam sejarah. Fir'aun yang menyombongkan kekuasaan, kaum Tsamud yang menantang mortalitas, menurut sunnah-nya Allah tidak akan tinggal diam. Mereka tertimpa hina di dunia. Mereka pasti ditunggu siksa di akhirat.


Kaum 'Ad dengan ucapan arogannya diabadikan oleh Al-Quran, “Siapa yang lebih kuat daripada kami?” (QS. Fushhilat: 15).


Hasil akhirnya--sebagai bentuk hukum ilahi yang akan terus berlaku, adalah: “Lalu Kami kirimkan kepada mereka angin yang sangat dingin lagi kencang pada hari-hari yang sial, agar Kami rasakan kepada mereka azab kehinaan di kehidupan dunia. Dan sungguh azab akhirat lebih menghinakan, sedang mereka tidak akan mendapat pertolongan.” (QS. Fushhilat: 16).


Begitulah sejarah terus mengulang siklus yang sama dalam bentuk yang berbeda. Imperium-imperium bergantian bangkit hingga nyaris menyentuh langit, lalu bisa jatuh tiba-tiba terbentur hukum ilahi. Tirani itu tumbang, Tatar, Mongol, Persia, Romawi.


Kekuatan raksasa modern juga sama. Uni Soviet dengan senjata nuklir dan tentakel politik absolutnya, runtuh juga pada akhirnya.


Bukan sekadar perguliran dadu politik, fakta itu adalah bentuk pengulangan dari satu sunnah Qurani yang presisi, bahwa kezaliman selalu membawa benih kehancurannya sendiri. Sebab pada akhirnya kerajaan itu milik Allah, dan sejarah, sekalipun tampak sebagai pertarungan kekuatan di permukaan, tapi hakikatnya tunduk pada hukum-hukum moral yang tidak pernah gagal mengetuk palu.


Zionisme dalam Hukum Ilahi


Hukum Allah juga tidak akan jauh dari golongan yang Allah laknat dalam Al-Quran, Bani Israil, dengan entitas Zionismenya yang berkali-kali menguji kewarasan kemanusiaan dunia. Hingga detik ini.


Kebiadaban mereka akan disucikan oleh Allah di tanah suci dengan keberkahannya. Sebuah wilayah di mana umat manusia akan menyaksikan berakhirnya masa panjang penuh kengerian.


Khusus tentang ini Allah Ta'ala berfirman, “Maka apabila datang janji yang terakhir, Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur-baur.” (QS. Al-Isra: 104). Sebuah janji yang dekat sekali.


Allah telah menjanjikan runtuhnya arogansi mereka, dan itu tidak terjadi kecuali setelah mereka mencapai puncak kesombongan. Kejatuhan tidak akan datang kecuali setelah kesewenang-wenangan.


Rafidhah dalam Hukum Ilahi


Tidak bisa karena tampilan islami lantas kezaliman menjadi aman. Termasuk klaim soal cinta kepada sebagian Ahlul Bait. Pasalnya kaum rafidhah telah menanam benih fitnah di tengah umat. Anyir bersimbah darah, penuh tipu daya.


Di negeri-negeri umat Islam mereka mencatatkan jejak kekejaman yang tidak terkira. Disebabkan tangan mereka penduduknya mengalami pembunuhan, pemerkosaan, dan penyiksaan yang paling sadis. Mungkin setan pun kalah kejamnya.


Belum lagi soal umpatan sesat mereka terhadap para sahabat. Padahal yang mereka umpat Allah angkat derajatnya dalam Al-Qur'an: “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka...” (QS. Al-Fath: 29).


Kezaliman itu sepaket dengan konsekuensi. Meja hukum Allah selalu presisi. Al-Quran mencatat, “Dan Tuhanmu tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Fusshilat: 46).


Rezim-Rezim Otoriter dalam Hukum Ilahi


Rezim yang beraliansi dengan kekuatan zalim, mendukung kesesatan, mempersekusi kejujuran ulama', membungkam suara kebenaran, membudayakan amoralisme, tidak akan luput pula dari akibat yang serupa.


Allah tidak tidur, bukan? Mengaku Islam dan menampakkan ketaatan palsu, apakah mempan? "Sesungguhnya Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Anfal: 47).


Umat dalam Hukum Ilahi


Tidak berhenti di kekuasaan, hukum ilahi juga berlaku untuk umat. Bila ada yang mengaku muslim bahkan tampaknya beribadah, shalat, umrah, haji, bukan berarti seketika aman dari konsekuensi. Sebab tidak sedikit yang mengaku muslim tetapi zalim. Ajaran Al-Quran tidak dijalankan, petunjuk Nabi tidak dihiraukan. Mengaku muslim tapi hidupnya hanya berputar pada hawa nafsu, syubhat, kemalasan, dan ketamakan.


Rasulullah telah memperingatkan umat dari nasib seperti itu, agar tidak menjadi angka-angka kosong yang tidak bernilai. 


Beliau bersabda: “Hampir saja bangsa-bangsa lain mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni hidangan mereka.” Lalu seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada hari itu?” Beliau menjawab, “Bahkan kalian pada hari itu banyak, tetapi kalian seperti buih di atas arus. Allah akan mencabut rasa takut terhadap kalian dari dada musuh-musuh kalian, dan Dia akan menanamkan 'wahn' ke dalam hati kalian.” 


Lalu seseorang bertanya, “Apa itu 'wahn', wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud, no. 4297).


Orang-Orang yang Jujur dalam Hukum Ilahi


Meski demikian, di tengah umat ini akan tetap ada orang-orang yang menepati janji kepada Allah. Ada yang telah gugur setelah menyempurnakan tugasnya, yang tetap teguh di posnya, menunaikan kewajiban, mengerahkan kemampuan, menginfakkan ilmu, tenaga, dan harta, serta menanggung segala beban tanpa sedikit pun berpaling dari agamanya. 


Ada pula yang masih menunggu tanpa mengubah pendiriannya. Mereka yang tetap teguh di medan perjuangan meskipun kondisi kritis. Ada yang mengorbankan kekayaannya. Ada yang mengajar Al-Qur'an, memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman, dan memberi peringatan kepada orang-orang zalim. 


Ada orang-orang yang sabar atas musibah yang menimpa, yang mengharap pahala di balik setiap takdir mereka. Ada pula yang bertahun-tahun tertahan di lorong para tiran, memandang ke langit, menanti kemenangan dari Allah.


Apakah kita mengira perjuangan mereka akan habis sementara Allah belum membongkar kebusukan orang zalim, belum menurunkan pertolongan-Nya kepada orang beriman, dan belum memberikan pertolongan-Nya? 


Tidak, demi Allah.


Sesungguhnya panji-panji agama-Nya sudah tampak akan berdiri tinggi di atas segalanya, dan agama-Nya akan berkuasa di seluruh bumi untuk hamba-Nya. Titik-titik kehancuran orang-orang zalim juga mulai meletus, satu per satu maupun secara berjamaah.


Sebagaimana kezaliman memiliki sunnah kehancuran, kebenaran pun memiliki sunnah kemunculan.


Akan datang hari ketika panji keadilan tegak di muka bumi, singgasana tirani runtuh, dan kemanusiaan kembali kepada timbangan yang Allah buat. Pada saat itu, seluruh dunia akan menyadari kebenaran yang sudah diumumkan Al-Qur'an sejak berabad-abad lalu: 


“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 21).


Maka setiap orang harus menentukan posisinya dalam pergulatan sejarah antara keadilan dan kezaliman. Ia harus tetap teguh berdiri di posnya, membekali diri dengan keyakinan, menyampaikan kabar kemenangan langit kepada bumi, dan mengulang dalam sanubarinya: "Aku akan hidup berpegang teguh pada tali akidahku, dan aku akan mati dengan senyum agar agamaku tetap hidup."


[]


*) Dikutip dari esai Prof. Gamal Abd Sattar, Wasekjen Himpunan Ulama' Muslimin Internasional, di laman Shuhoud, ditulis ulang dengan alih bahasa oleh Auda D. Zaki.