Wasathiyyah dalam Geopolitik: Penguatan Iman dan Nalar Kader di Kampus As-Sakinah

Iklan Semua Halaman

Wasathiyyah dalam Geopolitik: Penguatan Iman dan Nalar Kader di Kampus As-Sakinah



SLEMAN — Isu geopolitik yang seringkali dianggap kompleks dan berat justru dapat menjadi sarana penguatan iman dan kedewasaan berpikir kader. Hal ini mengemuka dalam kegiatan Syawalan dan Diskusi Geopolitik bertema “Meningkatkan Kualitas Iman dan Memperluas Wawasan” di Kampus As Sakinah Yogyakarta, 17–18 April 2026.


Dalam kajian malam, Ustadz Fathur Rahman memaparkan bahwa pendekatan wasatiyyah menjadi kunci utama dalam menghadapi derasnya arus informasi global.


Ia menjelaskan tiga bentuk implementasi konkret. Pertama, kemampuan melakukan filter informasi, terutama dalam menyikapi berita konflik global agar tidak mudah terprovokasi oleh hoaks. Kedua, menjaga kualitas interaksi sosial dengan tetap santun dan solutif di tengah perbedaan pandangan politik. Ketiga, membangun kemandirian kader melalui penguatan spiritual sebagai bentuk resistensi terhadap hegemoni global.


“Geopolitik tidak cukup dipahami sebagai peta kekuasaan dunia, tetapi harus direspons dengan kekuatan iman dan kedewasaan sikap,” jelasnya.


Sementara itu, Ustadz Fuad menyoroti pentingnya kesiapan lembaga dan organisasi amal usaha dalam menghadapi potensi dampak konflik global, khususnya dari kawasan Timur Tengah yang memiliki pengaruh luas terhadap stabilitas dunia.


Ia juga menekankan bahwa perbedaan di tengah umat perlu dilihat melalui kerangka berpikir ilmiah. “Perbedaan tidak boleh disikapi secara emosional, tetapi harus dikelola dengan pendekatan yang rasional dan berbasis ilmu,” ungkapnya.


Kegiatan yang diikuti sekitar 150 peserta ini menjadi ruang integrasi antara penguatan spiritual dan pengayaan wawasan strategis kader. Acara ditutup oleh Sekretaris DPW Hidayatullah DIY dan Jateng Bagian Selatan, Ustadz Muhammad Nur Islam, yang mendorong agar pembinaan semacam ini terus dikembangkan secara berkelanjutan.


Melalui kegiatan ini, kader diharapkan tidak hanya kokoh secara iman, tetapi juga mampu membaca dan merespons dinamika global secara bijak dan proporsional.