Ahli Tahajjud Memiliki Wajah “Menawan”

Iklan Semua Halaman

Ahli Tahajjud Memiliki Wajah “Menawan”

Thorif
Kamis, 10 Maret 2022

SUDAH pasti orang yang bertahajjud, bukan bertujuan untuk memiliki wajah yang menawan. Kalaupun itu terjadi adalah semata-mata karunia Allah yang diberikan oleh Allah di dunia ini kepada hamba-Nya yang ikhlas dan istiqamah bertahajjud, seperti dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah saw dan rombongan hijrah dari Mekah sampai di Madinah, mereka disambut dan dielu–elukan oleh masyarakat. Diantara yang hadir adalah Abdullah bin Salam yang waktu itu belum memeluk Islam. Ia berkata, “Ketika aku menatap wajahnya, tergambar bahwa ia bukanlah orang yang pernah berbohong”.

Kalimat yang pertama-tama diucapkan oleh beliau saat tiba di Madinah, ‘Wahai manusia, tebarkanlah ucapan salam, berikanlah makanan, bersilaturrahmilah dan salat malamlah ketika orang sedang tidur, niscaya kamu masuk surga dengan sejahtera“ (HR.Ibnu Majah, Al Hakim, dan Tirmizi).

Umar bin Khattab RA meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa salat malam, dan salat itu dilakukannya dengan baik, maka Allah memuliakannya dengan sembilan perkara lima di dunia dan empat di akhirat. Diantara lima perkara yang di dunia ini ialah
Tampak bekas ketaatannya pada wajahnya. Dalam hadis lain yang senada Rasul saw bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan salat tahajjud, maka wajahnya akan terlihat elok di siang hari.“

Ada orang bertanya kepada imam Al Hasan Al Barsi, ulama kharismatik Damaskus waktu itu, “Kenapa wajah ahli tahajjud tampak menawan?“ Beliau menjawab, “Tidak usah heran, karena ketika malam ia berduaan dengan Allah, lalu Allah memancarkan nur-Nya kepada si Abid itu.“

Dikisahkan, kalau orang menatap wajah Al Hasan Al Basri, maka selama seminggu membuat khusyuk mereka beribadah. Hal ini tidak heran, sebab Rasulullah saw menegaskan, menatap wajah ulama akhirat itu menuai kebaikan, seperti membangkitkan semangat untuk beribadah.

Allahuyarham KH. Abdullah Said, pendiri Ponpes Hidayatullah Balikpapan, yang digelari Dai Tahajjud, karena dalam setiap ceramahnya selalu mengangkat Tahajjud, menantang siapapun yang belum salat lail untuk salat lail. Bisa dibuktikan secara lahiriyah. “Coba salat lail tujuh malam berturut-turut,” kata beliau.

Sebelum salat lail, silakan berfoto dulu. Setelah salat lail berturut-turut itu, berfoto lagi. Lihat bedanya, pasti wajah akan kelihatan bersinar. Jangankan wajah kita, rumah ahli Tahajjud juga akan bersinar. Rasulullah saw dalam satu hadis menegaskan kurang lebih, “Rumah yang didalamnya didirikan salat tahajjud akan bercahaya dilihat oleh penghuni langit.“

Seorang santriwati di Ponpes Hidayatullah Balikpapan yang wajahnya dianggap jelek oleh ibunya, bisa menikah dengan seorang pemuda ganteng. Ibunya heran dan berdecak kagum dengan berkata, “Pintar betul orang pesantren membuat orang laku”. Dijawab oleh KH. Abdullah Said, “Itu bukan kepintaran orang pesantren, tapi karena pengaruh salat lail. Di wajah santriwati itu ada sebuah cahaya yang bersinar sehingga orang melihatnya cantik. Selain itu tentu karena doa-doanya ketika salat lail, makbul”.

Seorang wartawan ke Bangkok. Ia dikenal pengamal Tahajjud. Ketika berdiri di depan hotel untuk mencari taksi mencari Rumah Makan Muslim, tanpa diduga disapa oleh seorang sopir “Are you Moslem?“ Padahal sang Wartawan itu tidak memakai peci, sebagai salah satu identitas Muslim.

Ketika ditanya kepada sang sopir, dimana ia tahu bahwa dirinya Muslim? Sang sopir itu menjawab, pada wajahnya terpancar sinar seorang Ahli Ibadah. Masya Allah.

Diantara keistimewaan Tahajjud, menurut pengalaman seorang ahli Tahajjud. Pada wajahnya memancarkan cahaya keimanan, perkataannya dituruti oleh orang lain, analisa tulisannya tajam dan akan mendapatkan perhatian dan kecintaan dari orang-orang yang mengenalnya.
Ibnu Al Hajj berkata, “Diantara manfaat Tahajjud, pertama menggugurkan dosa, kedua menyinari kuburan, ketiga mencerahkan wajah dan keempat membugarkan tubuh.“ Wallahualam.*

____________________

USTADZ H. UTI KONSEN, penulis adalah dai dan tokoh masyarakat Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat
Sumber : www.hidayatullah.or.id