Kontroversi Pandji Pragiwaksono ini menegaskan kebebasan berekspresi dalam humor menuntut tanggung jawab etis, karena ketika ibadah shalat yang sakral dijadikan bahan satire, yang muncul bukan pencerahan, melainkan kegaduhan dan luka kolektif.
Oleh: Akh. Kholis
KOMIKA Pandji Pragiwaksono menjadi perbincangan publik setelah penampilan stand-up comedy-nya di Mens Rea memantik perdebatan. Banyak Gen-Z yang membela penampilannya yang mengkritik dua ormas besar NU dan Muhammadiyah menerima tambang dari pemerintah.
Sayangnya, banyak yang kurang peka, bahwa materi lawakannya tidak hanya soal tambang, ada yang menyentuh wilayah agama. Di bawah ini salah satu kutipan humor-nya yang dinilai meremehkan masalah ibadah sholat.
“Ada yang memilih pemimpin berdasarkan ibadahnya.Memangnya kalau shalatnya tidak pernah bolong otomatis baik? Enggak. Lu juga males kalau lo tahu Garuda Indonesia buka lowongan. Dicari pilot, syarat sholatnya gak pernah bolong (sambil wajahnya sedikit menyeringai disambut tawa penonton). Panik gak lo. Penumpang yang terhormat pesawat mengalami turbulansi akibat gangguan cuaca. Harap longgarkan sabuk pengaman dan rapatkan saf, kita shalat safar berjamaah,” sambil tangannya memperagakan seolah dia seorang imam sholat dan disambut tawa penonton.
Tak hanya itu, ia kemudian menirukan gaya pesan yang sering dipakai krue Citilink memakai pantun. “Jalan-jalan ke pasar malam, pulang-pulang membawa kayu. Yang belum Islam, login yuk!” katanya disambut tawa lagi.
Reaksi keras terhadap materi tersebut datang dari berbagai kalangan, termasuk pengacara Muannas Alaidid. Melalui akun X @muannas_alaidid pada 10 Januari, ia menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar selera humor, melainkan pelecehan terhadap inti ajaran Islam.
“SHOLAT ITU KATANYA TIANG AGAMA ORMAS ISLAM KEMANA, KETIKA ISLAM NYATA-NYATA TELAH DILECEHKAN
Setelah melecehkan suku Toraja, sekarang Pandji Pragiwaksono melecehkan agama Islam. Ia mengumpulkan puluhan ribu orang untuk mengajak mereka menertawakan sholat dan ormas Islam,” tulisnya.
“Kini sholat dijadikan bahan lelucon untuk apa? Satire politik. Apakah pantas agama dijadikan materi komedi atas dasar kritik politik? Apakah melecehkan agama dan suku sekarang dianggap kebebasan berekspresi? Semua ada batasannya,” tambah dia.
“Tak peduli keuntungan komersil miliaran, kali ini Pandji jelas-jelas telah melewati batas. Kalau negara diam, rakyat pantas saatnya bergerak,” tambahnya lagi.
Kutipan ini mencerminkan kegelisahan publik yang melihat shalat—ibadah paling fundamental dalam Islam—direduksi menjadi alat satire.
***
Dunia telah berulang kali memberi peringatan melalui kontroversi komedian yang menyinggung wilayah sensitive. Salah satu contoh comedian Tim Minchin hingga serial animasi South Park yang menjadikan simbol agama sebagai bahan satire ekstrem. Sejarah menunjukkan, humor yang menyentuh wilayah sakral kerap berujung kegaduhan, bukan pencerahan.
Humor, Etika, dan Kesakralan Ibadah
Islam tidak memusuhi humor, tetapi menempatkannya dalam bingkai adab. Al-Qur’an secara tegas mengingatkan agar manusia tidak saling mengolok, terutama dalam perkara yang menyentuh martabat dan keyakinan (QS. Al-Hujurat: 11). Dalam tradisi Islam, shalat bukan simbol sosial yang cair, melainkan ibadah yang kedudukannya sangat sakral: perintah langsung Allah SWT tanpa perantara Jibril dan amalan pertama yang dihisab.
Kajian akademik komunikasi menguatkan sensitivitas ini. John C. Meyer dalam Humor as a Double-Edged Sword (2000) menjelaskan bahwa humor dapat membangun solidaritas, tetapi juga mampu “mengasingkan dan melukai” ketika menyasar identitas inti suatu kelompok. Dalam konteks agama, identitas inti itu adalah ibadah.
Incongruity Theory—yang dibahas antara lain oleh Thomas Veatch dan Victor Raskin—menjelaskan bahwa humor muncul dari benturan makna yang tidak lazim. Ketika simbol sakral seperti shalat diposisikan dalam kerangka satire politik atau logika profan, ketidaksesuaian itu memang bisa memicu tawa, tetapi juga menimbulkan rasa terhina bagi mereka yang memaknai shalat sebagai kewajiban ilahiah, bukan produk sosial.
Lebih jauh, riset Peter McGraw dan Caleb Warren dalam Benign Violation Theory (Psychological Science, 2010) menunjukkan bahwa humor hanya bekerja jika pelanggaran norma masih dianggap “aman” dan tidak mengancam nilai fundamental audiens. Mereka menegaskan bahwa ketika pelanggaran menyentuh moralitas inti—seperti agama dan ibadah—persepsi “benign” runtuh. Humor pun berubah menjadi ofensif.
Temuan ini sejalan dengan laporan media internasional seperti The Guardian dan Pew Research Center yang mencatat bahwa lelucon tentang agama secara konsisten berada di peringkat tertinggi sebagai pemicu kemarahan publik lintas budaya. Dengan kata lain, kegaduhan akibat humor agama bukan anomali, melainkan pola yang berulang dan dapat diprediksi.
Pelajaran dari Kontroversi Global dan Jalan Etis
Kasus Pandji tidak berdiri sendiri. Dunia telah menyaksikan bagaimana satire agama memicu ketegangan serius. Kartunis Denmark Kurt Westergaard diserang akibat karikatur Nabi Muhammad di Jyllands-Posten, sementara Tim Minchin dan South Park berulang kali menuai kecaman global karena menjadikan agama sebagai bahan ejekan. Kasus-kasus ini bukan pembenaran atas kekerasan, tetapi peringatan keras bahwa simbol keagamaan memiliki daya ledak sosial yang nyata.
Dalam konteks Indonesia, kasus-kasus serupa terus berulang serasa tidak kapok. Pada 1990, tabloid Monitor mempublikasikan angket “50 Tokoh Paling Dikagumi”, di mana Arswendo menempatkan Nabi Muhammad ﷺ dalam ranking 11 di bawah Menteri Harmoko (peringkat 9, 797 suara), Mbak Tutut (8), Saddam Hussein (7), hingga Presiden Soeharto di nomor 1.
Umat Islam marah sehingga memicu aksi demo besar dan tuntutan dari tokoh-tokoh Muslim seperti Natsir, Dr Amien Rais, hingga Cak Nur (Dr Nurcholis Madjid). Atas kasus ini, Arswendo dipenjara dengan Pasal 156 KUHP penistaan agama, plus pelanggaran UU Pers.
Respons publik terhadap materi Mens Rea menunjukkan bahwa humor agama bukan perkara ringan. Kritik ulama, aktivis, hingga langkah hukum memperlihatkan betapa sensitifnya isu ini. Pengalaman global mengajarkan bahwa kontroversi semacam ini jarang berakhir sebagai diskusi sehat; ia lebih sering memantik konflik horizontal.
Menjadikan shalat—tiang agama Islam—sebagai bahan humor politik memiliki risiko serupa. Kritik terhadap praktik sosial atau politik sah dilakukan, tetapi menjadikan ibadah sebagai objek olok hanya akan memperlebar jurang ketersinggungan dan polarisasi.
Dalam Islam, ibadah —termasuk di dalamnya sholat— adalah salah satu sarat penting kepemimpinan. Bahkan Imam Mawardi dalam Al-Ahkām as-Sulṭāniyyah menulis;
Karena itu, para komika dan kreator konten perlu menempatkan etika sebagai pagar kebebasan berekspresi. Kritik sosial tetap mungkin dilakukan tanpa menabrak kesakralan ibadah.
Para komika harus belajar kasus-kasus sebelumnya. Satire yang cerdas adalah satire yang tahu batas.
Di sisi lain, umat Islam dituntut merespons dengan keteguhan dan kedewasaan. Marwah ibadah harus dijaga, tetapi dengan cara damai dan bermartabat. Kritik boleh, dialog terbuka sah, namun etika adalah kewajiban bersama.
Pada akhirnya, humor yang menyentuh agama bukan sekadar soal selera. Ia adalah ujian kedewasaan publik dalam menghormati keyakinan orang lain—dan sejarah telah cukup sering menunjukkan, ketika batas itu dilanggar, yang lahir bukan tawa, melainkan kegaduhan.*
Penulis sarjana komunikasi dan konsultan public relation
Sumber www.hidayatullah.com
.png)
Komentar