Doa-doa di dalam Al-Quran adalah doa yang sudah terjamin diijabah. Tentu saja sesuai dengan konteks siapa yang memintanya di dalam ayat tersebut, kecuali doa yang dijelaskan berikutnya dalam ayat lain bahwa doa itu memang tidak dikabulkan.
Tapi fakta berikutnya di antara doa terbanyak di dalam Al-Quran adalah doa seorang ayah untuk anaknya, tepatnya ‘ayah para nabi’, Ibrahim alaihissalam. Mulai dari doa supaya menjadi orang shalih, diterimanya amalan, diterimanya taubat, sampai level yang tertinggi yaitu menciptakan satu peradaban di muka bumi.
Dari sebuah doa ada cita-cita yang tergambar. Dari doa ada visi yang terlihat. Karena beliau adalah teladan yang tersertifikasi oleh Al-Quran maka doa dan cita-cita Nabi Ibrahim juga patut diteladani. Bukan hanya untuk nabi, tapi juga untuk manusia biasa.
Doa level pertama adalah meminta dikabulkannya amalan. “Rabbana taqabbal minna, innaka antas samiul alim,” (QS. Al-Baqarah: 127)
Banyak dari kita terlalu percaya diri bahwa amalan shalih itu pasti diterima. Padahal kecurigaan tetap diperlukan, dan kemungkinan akan selalu terbuka. Contoh dari Nabi Ibrahim adalah bahwa semulia apapun sebuah amalan yang dilakukan manusia akan selalu ada celah untuk salah.
Beliau mengucapkan doanya itu saat membangun Ka’bah, menjalankan perintah Allah. Kita jadi bisa menyimpulkan juga bahwa salah satu tanda diterimanya amalan adalah jika ada kemanfaatan yang mengalir, kebaikan yang tersebar luas, dan bekas yang tidak hilang ditelan masa.
“Fa`amma ma yanfa’unnasa fayamkutsu fil `ardh,” (QS. Ar-Ra’d: 17) "Apa yang bermanfaat untuk orang akan tetap bertahan di atas muka bumi."
Doa level berikutnya adalah minta untuk dijadikan sebagai orang yang taat, dan ditunjukkan cara beribadah. “Rabbana waj’alna muslimaini laka wa min dzurriyyatina ummatan muslimatan lak,” (QS. Al-Baqarah: 128)
Banyak orang yang tahu cara beribadah tapi tidak menjalankan. Banyak orang yang pandai tetapi sombong. Banyak juga orang yang merasa tahu dan merasa cukup dengan ibadah. Tapi Nabi Ibrahim alaihissalam mengajarkan meminta ilmu sekaligus meminta ketaatan. Karena kata seorang ahli hikmah, ilmu tanpa amal adalah kegilaan.
“Al-ilmu bila amalin junuun, wal amalu bila ilmin la yakuun,”
Doa yang level berikut adalah minta mati sebagai golongan orang shalih, dan meninggalkan legacy untuk orang banyak, sehingga mendapat surga. “Rabbi hab li hukman wa alhiqni bisshalihin, waj’al li lisana shidqin fil akhirin, waj’alni min wararsati jannatin naim,” (QS. Asy-Syu’ara: 83–85)
Tidak ada peninggalan yang paling membahagiakan saat mati kecuali dibicarakan kebaikannya di dunia, dan masuk surga di akhirat. Itulah visi Nabi Ibrahim untuk meninggal dengan legacy. Beliau adalah bapak yang mewariskan tauhid, agama hanif. Dan itulah sebaik-baik investasi.
Semua umat Islam sampai Hari Kiamat akan menyeut beliau sebagai salah satu ayah tauhid paling fenomenal. Sebagai poros pemersatu ajaran Ibrahimiyyah yang dianut mayoritas penduduk bumi hari ini. Tidak ada yang lebih berpengaruh daripada beliau.
“Tsumma awhayna ilaika anittabi’ millata Ibrahima haniifa, wa ma kana minal musyrikin,” (QS. An-Nahl: 123)
Doa berikut adalah untuk Makkah yang beliau bangun supaya menjadi negeri yang aman, bebas dari kesyirikan, dan makmur dengan rezeki yang berkecukupan. “Rabbij’al hadza baladan amina, wajnubni wa baniyya an na’budal ashnam,” “Rabbana liyuqimush-shalata faj’al af’idatan minan nasi tahwi ilaihim, warzuqhum minats tsamarati,”
Negeri tidak hanya soal infrastruktur, ekonomi, militer, atau politik, yang Nabi Ibrahim minta adalah soal keimanan terlebih dahulu, aman secara akidah, dan ibadah, baru unsur lainnya menjadi penyempurna berdirinya sebuah peradaban baru. Termasuk kemakmuran, dimana manusia sedunia terdorong berlomba-lomba untuk selalu meramaikan.
Yang spesifik bahkan beliau minta supaya anak-anaknya menjadi orang-orang yang mendirikan shalat.
Nabi Ibrahim adalah sosok ayah yang melahirkan peradaban terbesar di dunia saat ini. Agama Kristen yang menisbatkan diri dengan Isa alaihissalam — yang juga keturunan Ibrahim, kini mencapai 2,46 milyar penganut. Islam sebagai agama terakhir dari cicit Ibrahim, mencapai 2 milyar penganut.
Dari kedua agama terbesar itu saja Nabi Ibrahim telah memiliki pengaruh pada sekitar 55% dari total 8 milyar penduduk bumi saat ini.
Nabi Ibrahim memang hanya ayah biologis bagi tiga orang anaknya yang memiliki banyak keturunan, tapi beliau adalah ayah ideologis bagi milyaran-triliunan penduduk bumi sepanjang masa.
Sayangnya tidak semua jujur dalam menisbatkan diri. Seperti kita tahu, ada sebagian dari pengikut nabi yang mengubah pesan-pesan wahyu dengan kehendaknya sendiri. Ada pula satu generasi yang menyepakati perubahan itu bersama-sama.
Saat kesesatan itu dikoreksi kembali dengan hadirnya wahyu yang paripurna justru mereka tidak terima. Merasa diri sempurna. Merasa diri benar sendiri.
Tapi fenomena itu pun barangkali sudah terprediksi oleh sang ayah. Terlihat dari doa beliau yang terjawab;
“Qala wa min dzurriyyati, qala la yanalu ‘ahdidz dzalimin,” “Jadikanlah (kepemimpinan itu) juga untuk keturunanku, Allah menjawab: ‘Janjiku itu tidak berlaku bagi orang-orang yang dzalim,” (QS. Al-Baqarah: 124)
Dan berikutnya beliau hanya ingin mendoakan keturunan yang Islam saja; “Warzuq ahlahu minats tsamarati man amana minhum billahi wal yaumil akhir,” “Berikanlah rizki penduduknya berupa buah-buahan bagi yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” (Al-Baqarah: 125)
Komentar