Ramadhan dan Reorientasi Tupoksi Seorang Hamba

Iklan Semua Halaman

Ramadhan dan Reorientasi Tupoksi Seorang Hamba

audadzaki
Minggu, 15 Maret 2026


Bila ada orang yang hendak kontrak kerja di suatu perusahaan, ada dua hal dasar yang harus diketahui, yaitu tugas dan gaji. Masing-masing mewakili kewajiban dan hak. Selain itu yang berkaitan dengan pekerjaan biasanya akan mengikuti kemudian.


Pertanyaannya, setelah kontrak ditandatangani mana yang lebih dulu harus diminta, panduan tupoksi, atau slip gaji?


Pegawai yang tahu diri tentu akan menjawab tugas dan fungsi. Itu yang dibutuhkan. Kewajiban lebih diutamakan daripada hak. Adapun gaji akan cair kemudian bila pekerjaan sudah terlaksana dalam periode tertentu sesuai kesepakatan.


Demikian analogi manusia bila berhadapan dengan Allah. Dibanding meminta nikmat duniawi, setelah syahadat yang paling penting sebenarnya adalah meminta petunjuk tugas dan fungsi hidup. Dan itu yang sebenarnya dilakukan oleh setiap Muslim. Setiap hari.


Ihdinash-shiratal mustaqim. Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus.


Kalau bos atasan biasa memberikan pegawai dokumen tupoksi, jobdesc, dan to do list, maka Allah juga sudah memberikannya. Tepatnya lewat ayat-ayat yang tersusun bersamaan dengan Al-Fatihah tadi, yaitu 114 surah dalam Al-Quran.


Manusia sebenarnya sudah mendapatkan nikmat Allah kontan sejak sebelum lahir. Sampai kelak baligh dia bahkan tidak mendapat kewajiban. Itu seperti pegawai magang yang sudah mendapat gaji di muka bahkan sebelum mampu bekerja. Tentu saja “gaji” dari Allah bahkan tidak pernah sebanding dengan “kerja” manusia selamanya.


Lalu apa pekerjaan utama manusia itu?


Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduni. Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)


Tugas pokok manusia adalah ibadah.


Inni ja`ilun fil `ardhi khalifah. Sesunggunya aku menciptakan khalifah di muka bumi. (QS. Al-Baqarah: 30)


Fungsi manusia adalah untuk merawat bumi.


Sayangnya kebanyakan manusia fokus pada nikmat duniawi, bagaimana supaya mendapatkan kenaikan gaji, bahkan meminta tambahan lagi dan lagi. Pekerjaannya? Sekedarnya saja.


Itulah kira-kira logika mengapa orang yang bersyukur, dengan menjalankan ibadah, akan ditambah nikmatnya. Sebab hanya pegawai yang rajin bekerja yang akan naik gaji dan pangkatnya.


La`in syakartum la`azidannakum. Jika kalian bersyukur maka sungguh akan Aku tambah untuk kalian. (QS. Ibrahim: 7)


Tapi tentu pekerjaan tidak bisa maksimal tanpa paham tupoksi. Sama seperti ibadah yang tidak berlaku tanpa diilmui. Maka Rasulullah mengatakan,


Khairukum man ta’allamal Qurana wa ‘allamahu. Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya. (HR. Al-Bukhari)


Tentu saja. Orang yang membaca tupoksi berkali-kali akan faham pekerjaannya. Orang yang faham pekerjaannya akan maksimal kerjanya. Sebaliknya, orang yang tidak tahu menahu akan buruk performanya, kalaupun digaji maka ia memakan gaji buta. Di akahir periode ia mungkin terkena evaluasi, mungkin diberi penalti, atau mungkin juga diputus hubungan kerja.


Bolehkah pegawai fokus pada pekerjaan lain? Bisakah manusia hidup bertujuan dunia?


Tidak. Sebab dunia itu Allah yang menjamin. Seperti bos yang menjamin gaji di akhir bulan. Allah tidak meminta harta dari hamba-Nya, sebagaimana bos tidak meminta gaji dari pegawainya. Bukan itu yang diminta.


Maa uridu minhum min rizqin wama uridu an yuth’imuni. Aku (Allah) tidak menginginkan dari manusia sebgaian harta, dan Aku (Allah) tidak menghendaki makanannya. (QS. Adz-Dzariyat: 57)


Laa nas’aluka rizqan, nahnu narzuquka. Kami tidak memintamu rezeki, justru Kami-lah yang memberimu rezeki. (QS. Thaha: 132)


Kalaupun ada kenikmatan diuniawi yang harus dicari maka itu sebagai bentuk syukur dan menjalankan fungsi khalifah


Menanam untuk menyukuri rezeki tanah yang subur, dan memberi manfaat untuk hamba yang lain. Mengajar untuk mensyukuri rezeki akal yang pandai, dan memberi manfaat untuk hamba yang lain. Berdagang untuk mensyukuri nikmat komoditas, dan memberi manfaat untuk yang lain.


Demikianlah sehingga semua pekerjaan harus sesuai tupoksi. Tidak ada yang tidak penting untuk dilihat dari kacamata Al-Quran. Tidak ada yang sia-sia bila ditimbang dengan neraca rasa menghamba. Sebab visi manusia adalah Al-Quran.


Apa kabar Al-Quran kita?


Bulan Ramadhan adalah periode ekstra untuk penataran ulang tugas dan fungsi penghambaan. Semacam program reorientasi pegawai. Tugasnya adalah mempelajari kembali panduan hidup yang ada dalam Al-Quran. Lupakan sejenak soal gaji. Tahan sejenak nikmat-nikmat duniawi.


Bila level skill pekerja meningkat, maka segera setelah upgrading itu gaji akan naik. Syawwal yang lebih taat, Dzulqa’dah yang semakin rajin shalat, Dzulhijjah yang meningkat, dan tahun-tahun ibadah baru yang semakin surplus dengan kebaikan.


Rasulullah saw juga melakukan hal yang sama. Setiap Ramadhan beliau bertadarus dengan Jibril dan mengkhatamkan satu kali hingga dua kali sebulan.


Mari kembali membaca.


Mari kembali menghamba.