Seburuk Apa Pun Dunia, Tetaplah Tebarkan Dakwah

Iklan Semua Halaman

Seburuk Apa Pun Dunia, Tetaplah Tebarkan Dakwah

Thorif
Senin, 30 Mei 2022


DUNIA ini tidak sempurna. Ia hanya “tempat hukuman” yang disediakan Allah Ta’ala untuk Adam Alaihissalam  ketika melakukan sebuah kesalahan di surga.

Bahkan, Rasulullah ﷺ csendiri pernah berkata, sebagaimana diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah, “Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, dan seorang ‘alim atau penuntut ilmu yang syar’i.” 

Karena dunia ini tidak sempurna maka wajarlah bila kita mendapati banyak sekali keburukan di dunia ini. Terlebih manusia yang diamanahi sebagai khalifah juga memiliki banyak kelemahan.

Mareka mudah sekali tergoda. Mereka lebih mencintai dunia yang tidak sempurna ini ketimbang kampung halamannya di surga yang tak ada cacat di dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman;

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالۡبَـنِيۡنَ وَالۡقَنَاطِيۡرِ الۡمُقَنۡطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالۡفِضَّةِ وَالۡخَـيۡلِ الۡمُسَوَّمَةِ وَالۡاَنۡعَامِ وَالۡحَـرۡثِ‌ؕ ذٰ لِكَ مَتَاعُ الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا ‌ۚ وَاللّٰهُ عِنۡدَهٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS: Ali ‘Imran 3: Ayat 14).

Bila kita telah paham bahwa dunia ini memang tak sempurna, maka seharusnya tak perlu merasa aneh ketika menyaksikan begitu banyak kejanggalan di dalamnya. Banyak orang berebut harta, tahta, dan wanita, demi mendapatkan bahagia, tetapi setelah semua itu mereka dapatkan, bukan bahagia yang mereka terima, justru rasa khawatir dan curiga. Aneh? Tidak! Sebab, begitulah dunia.

Rasulullah ﷺ pernah mencela orang-orang yang terpedaya oleh dunia. Sabda beliau;

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ

“Celakalah budak dinar (uang emas), celakalah budak dirham (uang perak), celakalah budak khamishah (pakaian yang cantik) dan celakalah budak khamilah (ranjang yang empuk).” (HR. Bukhari).

Di dalam hadits yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda;

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujiannya) dan fitnah umatku adalah harta.” (HR: Bukhari)

Namun, sepeninggal Rasulullah ﷺ, apakah para budak dunia ini semakin berkurang?  Tidak! Justru semakin bertambah.

Mereka tenggelam dalam fitnah dunia, dan lalai menggapai surga yang luasnya bagaikan langit dan bumi. Aneh? Tidak! Karena dunia memang tidak sempurna!

Namun, bagi golongan orang yang sedikit, dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Mereka tidak silau dengan dunia.

Namun, sepeninggal Rasulullah ﷺ, apakah para budak dunia ini semakin berkurang?  Tidak! Justru semakin bertambah.

Mereka tenggelam dalam fitnah dunia, dan lalai menggapai surga yang luasnya bagaikan langit dan bumi. Aneh? Tidak! Karena dunia memang tidak sempurna!

Namun, bagi golongan orang yang sedikit, dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Mereka tidak silau dengan dunia.

Mereka juga tidak membenci harta. Hanya saja, mereka berhati-hati, jangan sampai harta dan nikmat dunia membuat mereka lalai dari mengingat Allah Ta’ala.

Karena pribadi seperti ini, mereka kerap dianggap aneh oleh orang kebanyakan. Kehidupan mereka tidak seperti kebanyakan orang.

Padahal, mereka bukanlah manusia-manusia aneh. Mereka adalah manusia-manusia yang sadar. Mereka tidak termasuk dalam bagian dunia yang terlaknat, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah ﷺ di atas.

Seburuk apa pun dunia, golongan kecil ini tetap menebar dakwah. Mereka tetap mengajak manusia kepada kebenaran; amar ma’ruf nahi munkar.

Di mata mereka, dunia yang buruk ini tidaklah aneh. Sebab, memang begitulah dunia, tempat Allah Ta’ala menguji sekuat apa iman seorang hamba. Bukankah Allah Ta’ala berfirman;

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?.” (QS: Al-‘Ankabut [29]: 2).

Namun, bagi mereka yang mesih besar harapannya kepada dunia, akan terkaget-kaget apabila mendapati fakta tak sesuai dengan harapan. Mereka frustasi, menyalahkan dunia, bahkan menyalahkan takdir!

Padahal, semua yang berlangsung di muka bumi ini telah sesuai dengan skenario Allah Ta’ala.  Wallahu a’lam.*

Rep: Admin Hidcom
Sumber : www.hidayatullah.com