Inilah Nominasi Manusia Manusia Terbaik

Iklan Semua Halaman

Inilah Nominasi Manusia Manusia Terbaik

Thorif
Rabu, 23 Februari 2022


SETIAP
 tahun, biasanya kita akan mendengar pengumuman tokoh terbaik versi lembaga A, atau figur paling berpengaruh menurut majalah B. Belum lagi berbagai kontes dan kompetisi yang akan menghasilkan nominasi “manusia-manusia terbaik”, menurut versi dan kriteria yang beraneka ragam.

Sejenak, mari kita bertanya, apakah Islam tidak menjelaskan siapa manusia-manusia terbaik itu, sehingga kita layak berlomba-lomba menjadi – paling kurang – salah satunya? Lalu, siapakah manusia-manusia terbaik menurut Islam itu? Inilah sebagian diantaranya.

Pertama, orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an

Diriwayatkan dari ‘Utsman: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang terbaik diantara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (Hadits riwayat Bukhari).

Inilah Abu ‘Abdirrahman as-Sulami, seorang tabi’in yang merasa terhormat dan bangga telah duduk di masjid mengajarkan Al-Qur’an selama 40 tahun. Adakah kita termasuk kelompok ini? Jika bukan, bagaimana dengan manusia terbaik berikutnya?

Kedua, orang yang paling baik dalam melunasi hutangnya

Abu Hurairah bercerita, bahwa ada seseorang yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menagih hutang. Namun, ia bersikap kasar kepada beliau. Sebagian sahabat pun hendak menghajarnya, namun dicegah oleh beliau.

Beliau lalu bersabda, “Biarkan dia, sebab orang yang mempunyai hak memang berhak berbicara. Berikan kepadanya unta yang seusia dengan unta (yang kupinjam) darinya.” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak menemukan kecuali unta yang lebih baik dari unta (yang Anda pinjam) darinya?” Beliau menjawab, “Berikan saja itu padanya, sebab orang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik dalam melunasi hutangnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, redaksinya milik Bukhari).

Lihatlah Nabi kita itu, betapa lapang dada dan pemurahnya! Beliau dikasari umatnya, namun tidak mengizinkan sahabat-sahabatnya yang hendak menghajar orang itu. Justru beliau membayar hutangnya dengan nilai yang lebih baik dan lebih besar!

Tentu ini tidak ada hubungannya dengan rentenir yang mengejar-kejar pedagang kecil di pasar-pasar dengan bunga pinjaman yang mencekik leher. Sebab yang terakhir ini adalah riba yang diharamkan, sementara apa yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kelapangdadaan seorang pemimpin, ketulusan dalam memberi, dan komitmen untuk menjaga hak-hak orang lain. Apakah kita bisa seperti ini? Jika belum, bagaimana dengan manusia terbaik berikutnya?

Ketiga, orang yang bisa dipercayai kebaikannya dan tidak dikhawatirkan kejahatannya

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdiri dan berbicara di hadapan sekelompok orang yang duduk, “Maukah kalian kuberitahu siapa orang terbaik diantara kalian, dibandingkan orang terburuk?” Mereka diam tidak menjawab, dan beliau mengulangi perkataannya sampai tiga kali.

Lalu, ada salah seorang dari mereka yang berkata, “Mau, wahai Rasulullah. Beritahu kami siapa yang lebih baik diantara kami dibanding yang buruk.”

Beliaupun bersabda, “Orang terbaik diantara kalian adalah yang bisa diharapkan kebaikannya dan tidak dikhawatirkan kejahatannya, sebaliknya orang terburuk diantara kalian adalah yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan (kalian) tidak merasa aman dari kejahatannya.” (Hadits hasan-shahih, riwayat Tirmidzi).

Siapakah kita di mata orang-orang di sekitar kita? Apakah mereka merasa aman dan percaya pada keselamatan diri dan hartanya tatkala berada di dekat kita; saat berjumpa dan berbicara dengan kita; ketika berinteraksi dan berurusan dengan kita?

Atau sebaliknya, mereka selalu diliputi ketakutan dan terancam sekedar mendengar kita akan datang; dan langsung berputus asa saat kita benar-benar telah hadir? Hamba Allah macam apa kita ini jika tidak bisa menciptakan rasa aman bagi sekelilingnya?!

Keempat, orang yang memperlakukan istrinya dengan baik

Ummul Mu’minin ‘Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik dalam memperlakukan istrinya. Dan aku adalah yang terbaik diantara kalian dalam memperlakukan istrinya.” (Hadits shahih, riwayat Tirmidzi, bagian akhirnya diringkas).

Maka, para ulama’ selalu memperhatikan dengan teliti siapa calon suami dari anak-anak perempuannya. Sebagian mereka memberitahu putrinya, mengapa menikahkannya dengan seorang calon suami yang dipilih karena keshalihan dan agama, bukan yang lain.

Dikatakannya, “(Orang yang shalih itu), jika ia mencintaimu maka ia akan memuliakanmu, namun jika ia membencimu maka ia tidak akan menzhalimimu.”

Ya, keshalihannya akan menjadi kendali yang memacunya berbuat baik bila hatinya ridha, namun segera mengekangnya agar berhati-hati ketika marah. Betapa besar kerusakan yang ditimbulkan oleh suami yang bejat dan rusak moralnya; yang tidak beragama dan fasiq (ahli maksiat).

Bisa jadi, di rumah ia menzhalimi istrinya, sementara di luar sana ia menggoda istri orang lain. Tercelalah para suami yang di siang hari memukuli istrinya seperti menyiksa budak, namun di malam hari ia menggaulinya!

Inilah sebagian dari manusia-manusia terbaik yang ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Masih banyak yang lain, yang dapat kita temukan dalam kitab-kitab hadits. Maka, seharusnya kita tidak berkecil hati jika tidak dinominasikan sebagai “yang terbaik” dalam kontes-kontes buatan manusia.

Bila kita belum bisa menjadi pengkaji atau guru Al-Qur’an, berusahalah menjadi orang yang melunasi pinjaman dan kredit dengan baik. Atau, berusahalah menjadi orang yang bisa dipercayai kebaikannya dan tidak dikhawatirkan kejahatannya.

Atau, jadilah sorang suami yang baik. Semoga Allah membimbing agar salah satu, atau sebagian besar sifat-sifat baik itu, terpatri dalam jiwa kita. Amin.

Ust, M. Alimin Mukhtar