Lisan: Sumber Keselamatan dan Kecelakaan


SETIAP insan selalu mendambakan keselamatan, disempurnakannya ad-diin juga disematkan nama Islam yang mempunyai ashlu al-maddah sin-lam-mim; silm dan mempunyai beberapa derivasi menjadi kata “as-salam”, ”islam” yang berarti keselamatan dan menyelamatkan.

Untuk mendatangkan keselamatan mempunyai banyak cara, salah satunya dengan menjaga lisān. Al-Qur’an sebagai pentunjuk, telah menunjukkan lafadz lisān disebut kurang lebih sebanyak 25 kali dengan beragam bentuk jama’ ataupun mufradnya.

Adapun berbagai makna sesuai dengan konteksnya. Dalam Qu’ran Dictionary definisi dari lisān menunjukkan beragam definisi namun masih dalam satu makna seperti lisān yang berarti lidah, bahasa, perkataan, dan kemampuan berbicara. Dari sini, menunjukkan satu makna merujuk kepada “perkataan” serta segala hal yang berkaitan dengannya.

Dalam tatanan din al-islamlisān mempunyai peran penting dan sakral. Kenapa demikian?

Karena Islam terkandung di dalamnya konsep Iman, sedangkan mekanisme dalam makna Iman adalah tashdiq al-qalb, iqrar bil lisān, wa ‘amal bil arkan, kurang lebih terjemahannya seperti ini “percaya dengan jujur di dalam hati, mengucapkan (penegasan) dengan lisān dan dibuktikan dengan perbuatan”.

Jadi, lisān mempunyai peran penting dalam kehidupan seorang muslim, lisān menjadi salah satu alat untuk pembuktian keimanan seorang dengan taqrir “amantu bil Allah” yang berarti “saya beriman kepada Allah”.

Menilik ke dalam ranah hablum minallahlisān mempunyai andil penentuan dirinya berislam atau tidak. Seorang non-muslim masuk Islam bersyahadat menggunakan lisān-nya dengan mengatakan “Asyhadu An Laa Ilaha Illa Allah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”.

Sebaliknya orang yang murtad pun mendeklarasikan kekafirannya dengan lisān juga. Singkatnya lisān dapat menentukan status “muslim” atau “kafir” dan penentuan dirinya tertaut dengan Allah atau terputus.

Menguatkan penjelasan di atas, Rasulullah memberikan peringatan (nadzr) kepada umatnya mengenai kesakralan lisān, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.”(H.R Bukhari & Muslim).

Menginsyafi hadits ini, tersirat makna bahwa menjaga lisān adalah bukti keimanan terhadap Allah dan hari akhir dan sekaligus mencerminkan identitas  (mu’min). Kalaupun belum mampu untuk menjaganya maka solusi dari Rasulullah adalah diam.

Dalam konteks hablu minannaslisān dapat mencerminkan kedurhakaan dan kemuliaan. Allah berfirman dalam surat al-Isra ayat 23-24:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS: Al-Isra ayat 23-24).

Mensitir kalimat “janganlah kamu mengatakan kepada keduanya “ah” (uff), dan janganlah membentak mereka ucapkanlah perkataan yang baik”, ini adalah penegasan kembali betapa sakralnya lisān. Dengan menjaga lisān kepada orang tua kita bisa mulia dan jika tidak bisa menjaga lisān kita bisa durhaka.

Lisān pun bisa membuat sakit hati meskipun ia berada diluar organ dalam tubuh, namun kenyataannya lisān bisa menembus hati organ yang sangat dalam. Lebih dalam lagi, lisān ibarat “corong teko”, jika teko diisi air susu maka ketika dituang akan keluar air susu, dan jika teko diisi air keruh maka keluarnya pun air keruh.

Merefleksikan urgensi menjaga lisān dalam konteks kekinian, mari bersama merenung bagaimana penarikan sumpah para elit pejabat yang mewakili suara rakyat. Dengan diawali bersumpah atas nama Allah serta ucapan “akan memenuhi amanat yang diberikan rakyat”atau , maka sebagai bentuk penjagaan atas lisānnya harus diwujudkan dengan pertanggung jawaban. Sekali lagi, menjaga lisān itu berat!

Dalam ranah epistemologis, lisān bersumber bagaimana hati dan pikirannya atau lisān adalah gambaran isi akal, pola pikir, cara pandang serta basic life nya. Apabila hati dan pikirannya diisi dengan kebaikan, maka outputnya pun akan cenderung baik.

Namun lisān juga harus dibarengi dengan kejujuran dan keikhlasan hati serta dibuktikan dengan perbuatan. Jangan sampai lain kata lain hati serta lain perbuatan. Maka jagalah lisān, karena ia bukti keimanan,  cermin dari cara pandang yang bersumber pada hati dan pikiran, ia dapat menempatkan dalam kemuliaan atau kedurhakaan. Pesan terakhir, jagalah lisān karena ia membawa kepada keselamatan insan. Wallahu ‘alam bi sawab.*/Alvin Qodri LazuardyFounder Majelis Budaya Ilmu Tegal

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S
Sumber : www.hidayatullah.com

0 Response to "Lisan: Sumber Keselamatan dan Kecelakaan"

Posting Komentar