Catatan Kecil Menyambut Milad 50 Tahun Hidayatullah


Oleh Mujahid M. Salbu*

SEKILAS hidup di bawah naungan Al Quran dan As Sunnah seolah terbelenggu dalam aturan yang mengekang kebebasan, namun, sejatinya adalah jalan lempang menuju ruang kebebasan yang sangat luas yang menyediakan kenikmatan duniawi (yang dihalalkan) sekaligus kenikmatan dan kelezatan ukhrawi.

Setengah abad perjalanan Hidayatullah, berawal dari sebuah lokasi kecil di samping pembakaran batu bata, kehangatan nilai-nilai Islam mulai dirasakan para pendiri dan kader awal.

Ruang kecil untuk mengelaborasi ayat-ayat al Quran menjadi sebuah konsepsi yang melandasi pergerakan, kehangatan yang awalnya hanya menyentuh aspek batiniah, hari-hari para perintis dilalui dengan kondisi sulit, menu makan diolah dari tumbuhan di hutan, tidur beralaskan tanah, atapnya pelepah daun yang disusun seadanya.

Kini, ruang-ruang kenikmatan dan kehangatan itu tidak lagi sebatas lingkaran kecil di atas gunung tetapi telah melingkupi nusantara.

Gelombang dakwah dan tarbiyah berayun dari kota metropolitan hingga ke pulau-pulau terpencil dan pedalaman, tak sebatas kenikmatan batiniah tetapi juga lahiriah.

Namun, segala fasilitas dan kemudahan tidak membuat kader terlena, semangat itu masih terjaga, dipicu percikan sejarah jejak perjuangan orang-orang tua terdahulu dalam mengarungi samudra dakwah dan tarbiyah, yang sudah merasakan nikmatnya beribadah dan berjuang.

Juga, percikan semangat asatidzah di tingkat pusat yang tak lelah turun ke daerah, melakukan konsolidasi organisasi dan tranformasi manhaj nabawi.

Kader tak hanya merawat tradisi tetapi juga melakukan perenungan dan elaborasi sehingga setiap langkah digerakkan oleh kesadaran historis dan ideologis.

Sebagaimana spirit para pendiri dan perintis serta kader awal, perjalanan mengemban amanah dakwah dan tarbiyah bukanlah rangkaian menyusun lembaran epik atau kisah kepahlawanan, namun untuk sebuah tupoksi kehambaan dan kekhalifahan.

Merajut amanah juga sebuah perjalanan spiritual untuk menemukan hakikat diri, yang bisa saja ditemukan pada jabat tangan hangat sesama muslim atau di bibir muallaf yang tersenyum bahagia usai berwudhu, dalam lipatan ombak, di keyboard komputer saat merancang program kerja atau di jalan sunyi yang menjelma ekstase panjang.

Ekstase membesarkan Allah Ta’ala (wa Rabbaka fa kabbir-Al Mudatstsir ayat 3) dan mengecilkan diri sebagai hamba yang lemah.

Setiap kader dituntut untuk berpikir, bekerja dan beribadah keras. Sebab Hidayatullah hadir memadukan revolusi konsepsional dan revolusi operasional ditopang kekuatan spiritual. Karena, operasional tanpa konsepsi hanya mengulangi kesalahan yang lalu.

Ketika ada kader yang lalai tidak bangun malam untuk tahajjud, maka esoknya ia seperti tak berdaya, karena tidak siap menghadapi fakta-fakta di medan dakwah dan tarbiyah.

Sebab tahajjud adalah upaya meraih energi dari langit. Proses menempuh “jalan lurus” itulah yang kemudian melahirkan kehangatan dan kenikmatan.

Dan, jika Allah Ta’ala berkenan menganugerahkan nikmat maka itu bukan hanya untuk diri dan keluarga, bukan hanya untuk muallaf dan kaum muslimin di pulau-pulau, bukan hanya untuk mad’u tetapi juga nikmat untuk generasi berikut. Sebab, setiap derap langkah hari ini akan terekam dalam memori generasi muda pewaris perjuangan.

Fitrah atau sifat asal akan menuntun pikiran mereka untuk juga mengikuti jejak kebaikan yang hadir dalam kolase uswatun hasanah setengah abad perjalanan Hidayatullah.

Tanjung Pinang, 20 Dzulhijjah 1442 H

*) Mujahid M. Salbu, penulis adalah Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepulauan Riau

Sumber : www.hidayatullah.or.id

0 Response to "Catatan Kecil Menyambut Milad 50 Tahun Hidayatullah"

Posting Komentar