JAKARTA — Santri MTs Hidayatullah Yogyakarta kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Luqman Matahari Sasongko, siswa kelas VIII MTs Hidayatullah, berhasil meraih medali emas dalam ajang Olimpiade Bahasa Arab Nasional ke-8 yang diselenggarakan oleh Forum MGMP Bahasa Arab Se-Indonesia pada 13–15 November 2025.
Kompetisi tingkat nasional tersebut berlangsung di Asrama Haji Embarkasi Jakarta dan diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Ajang ini mempertemukan pelajar dari berbagai kategori sekolah dan madrasah, baik negeri maupun swasta, termasuk lembaga full day school dan boarding school. Peserta berasal dari jenjang SD/MI hingga SMA/MA, serta kategori khusus bagi guru pembimbing.
Sebelum melaju ke tingkat nasional, Luqman terlebih dahulu melalui tahapan seleksi berjenjang. Ia berhasil meraih juara pada Olimpiade Bahasa Arab tingkat Kabupaten Sleman, kemudian melanjutkan prestasinya dengan meraih juara pada Olimpiade Bahasa Arab tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sehingga berhak mewakili daerahnya dalam kompetisi nasional.
Luqman yang berasal dari Semarang mengaku tidak menyangka kemampuannya dalam bahasa Arab dapat membawanya meraih prestasi di tingkat nasional.
“Lega. Tidak menyangka belajar bahasa Arab ternyata bisa membawa saya ke juara tingkat nasional,” ungkap Luqman usai pengumuman pemenang.
Suasana kompetisi berlangsung cukup tegang sekaligus meriah. Para peserta harus melewati berbagai tahapan seleksi yang kompetitif untuk menentukan peraih medali di tingkat nasional.
Ayah Luqman, Mungki Yogo Sasongko, yang turut hadir mendampingi putranya selama perlombaan, menyampaikan rasa bangga sekaligus terima kasih kepada para asatidz di Pesantren Hidayatullah yang selama ini mendukung proses belajar putranya.
“Kami turut bangga dan berterima kasih kepada para asatidz di Pesantren Hidayatullah yang menjadi support system bagi ananda Luqman dalam belajar. Semoga ini menjadi motivasi bagi yang lainnya,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa Luqman sejak kecil memiliki kebiasaan belajar dan membaca yang kuat.
“Luqman terbiasa belajar sejak kecil. Kami sebagai orang tua hanya berusaha memfasilitasi, khususnya untuk kebutuhan membaca. Alhamdulillah Luqman memang suka dengan buku,” tambahnya.
Menurutnya, salah satu alasan memilih Pesantren Hidayatullah sebagai tempat pendidikan Luqman adalah ketersediaan fasilitas literasi yang memadai.
“Salah satu pertimbangan memilih Pesantren Hidayatullah waktu itu adalah karena memiliki perpustakaan dengan koleksi buku yang cukup banyak. Itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Luqman,” jelasnya.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa santri di lingkungan Hidayatullah memiliki peluang besar untuk menguasai bahasa Arab sekaligus mendalami ilmu-ilmu keislaman secara baik dan kompetitif di tingkat nasional.
Dalam kompetisi tersebut, kategori guru pembimbing juga diikuti oleh Auda Dhiyauddin Zaki, yang turut mendampingi proses pembinaan peserta dari Pesantren Hidayatullah.
Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para santri lainnya untuk terus mengembangkan kemampuan bahasa Arab sebagai salah satu kunci penting dalam memahami khazanah keilmuan Islam.
Komentar