Obesitas, Pandemi yang Tidak Kalah Berbahaya dari Coronavirus


Satu miliar orang di seluruh dunia akan mengalami obesitas pada tahun 2030, menurut proyeksi terbaru oleh World Obesity Federation.

Angka itu dua kali lebih banyak dibanding tahun 2010, kata organisasi tersebut dalam laporan terbaru yang dirilis bertepatan dengan World Obesity Day Jumat 4 Maret 2022.

Lebih dari 150 pakar kesehatan global dan aktivis menyeru dibuatnya rencana aksi komprehensif dan mendesak guna memenuhi target yang ditetapkan World Health Organisation (WHO) untuk menghentikan kenaikan obesitas pada tahun 2025 ke tingkat seperti pada tahun 2010.

Dalam sebuah surat terbuka mereka mengatakan bahwa dunia sudah terlalu lama mengabaikan masalah obesitas, dan membiarkan banyak generasi mengalami kesalahpahaman, fragmentasi, kurangnya perhatian dan stigmatisasi tentang obesitas dan mereka yang mengalami obesitas.

Di Eropa saja, hampir 30 persen orang dewasa diperkirakan akan mengalami obesitas pada 2030, dan satu dari enam anak usia 5-9 tahun akan mengalami berat badan berlebih, menurut analisis terbaru World Obesity Atlas.

Termasuk negara yang akan terdampak paling parah adalah Turki, Inggris dan Irlandia, dengan sepertiga orang dewasa akan memiliki bobot tubuh berlebihan.

Swiss, Finlandia dan Norwegia dianggap sebagai negara paling siap untuk mencegah dan mengatasi masalah obesitas.

Eropa secara umum memiliki kesiapan yang lebih baik karena akses ke pelayanan kesehatan di sana lebih baik. Namun, stigma yang berkembang di masyarakat berkaitan dengan obesitas dapat membuat orang menunda untuk menjalani perawatan, kata Olivia Cavalcanti, direktur sains di World Obesity Federation.

“Sudah ada lebih banyak kesadaran bahwa obesitas sebenarnya adalah penyakit – penyakit kronis, kambuhan, multifaktorial – dan bukan sekedar akibat dari pilihan individu atau orang yang malas,”kata Cavalcanti kepada Euronews Next.

“Namun, masih banyak yang belum kita ketahui perihal obesitas ini. Kita tentunya membutuhkan lebih banyak dana dan penelitian tentang topik ini”.

Untuk orang dewasa, WHO mendefinisikan obesitas sebagai memiliki indeks massa tubuh (BMI) lebih besar atau sama dengan 30.

Hasil riset menunjukkan adanya ratusan gen yang berkaitan dengan obesitas, serta faktor penyebab dari makanan-makanan ultra-olahan seperti makanan ringan kemasan, makanan yang dapat disajikan dengan menggunakan microwave, dan makanan cepat saji.

Aturan pemasaran global, perdagangan, pertanian, dan lingkungan adalah bagian dari “masalah sistemik” obesitas, kata Cavalcanti.

Kecanduan menatap layar televisi atau ponsel dan komputer serta penggunaan remote control yang meluas juga punya andil dalam masalah obesitas, sama seperti kurangnya olahraga atau malas untuk menggerakkan badan.

Cavalcanti memperingatkan bahwa sejumlah gawai canggih untuk memantau diet dan olahraga yang banyak dipakai oleh masyarakat sekarang ini tidak cukup untuk mengatasi masalah obesitas.

“Akar masalah ini sangat dalam, kita bicara soal sistem dan kebijakan pangan. Kita tidak dapat semata-mata mengandalkan respon pribadi untuk mengatasi masalah sistemik,” tegasnya.

Pakar-pakar kesehatan global sejak bertahun-tahun silam memperingatkan bahaya obesitas di masyarakat sebagai masalah kesehatan publik.

Pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa orang penderita obesitas jauh lebih tinggi berisiko mengalami sakit parah dan kematian. 

“Kita sekarang memahami bahwa menunda tindakan lagi justru akan benar-benar memperburuk keadaan. Kita harus mengambil tindakan sekarang,” tegas Cavalcanti.

Dalam website WHO tentang obesitas disebutkan bahwa lebih dari 4 juta orang meninggal setiap tahun akibat kelebihan berat badan atau obesitas pada tahun 2017.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija
Sumber : www.hidayatullah.com

0 Response to "Obesitas, Pandemi yang Tidak Kalah Berbahaya dari Coronavirus"

Posting Komentar