Sabar dalam Ketaatan Itu Berat

Iklan Semua Halaman

Sabar dalam Ketaatan Itu Berat

Thorif
Minggu, 07 Februari 2021


SECARA  bahasa sabar berarti menahan diri. Para ulama menjabarkan sabar kepada tiga perkara. Pertama, menahan diri dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala. Kedua, menahan diri dari hal-hal yang diharamkan. Dan ketiga, menahan diri atas musibah atau takdir Allah Ta’ala yang dirasa pahit (atau musibah).

Ketiga perkara ini jelas berat. Namun, menurut para ulama, yang terberat adalah sabar dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala. Wajarlah bila sabar jenis ini paling tinggi derajatnya. Sebab, bagi jiwa yang belum memiliki iman yang kokoh, taat itu melelahkan. Lelah jiwa, lelah raga.

aat dalam membayar zakat, misalnya. Bagi manusia yang condong kepada dunia, mengeluarkan harta itu berat. Lihatlah Qorun, saudagar amat kaya pada masa Nabi Musa AS. Pada mulanya ia bersedia membayar zakat atas hartanya yang amat banyak itu. Apalagi ketika Nabi Musa AS memberitahu bahwa bagian dari harta yang akan diambil untuk zakat amat kecil. Hanya seperseribu saja.

Namun, ketika dihitung berapa nilai seperseribu dari seluruh hartanya, Qorun terperangah. Ternyata banyak juga. Sikap kikirnya muncul. Ia tak bersedia membayarkan zakat meskipun telah diminta oleh Nabi Musa. Jika dulu berzakat sebanyak 0,1 persen saja sudah berat, bagaimana sekarang dengan nilai 2,5 persen?

Begitu pula taat dalam melaksanakan shalat. Betapa sering kita berat mengambil pilihan ketika azan sudah berkumandang, apakah menunda beraktivitas atau menunda shalat? Kalau pun kita memutuskan menunda beraktivitas, maka berat pula kita memutuskan apakah shalat sendiri agar bisa segera   beraktivitas, atau pergi ke masjid terdekat?

Baca: Memaafkan dan Bersabar

Rupanya manusia merasa khawatir waktu yang ia gunakan untuk shalat akan mengurangi waktu yang ia pakai untuk mencari rezeki sehingga berkuranglah pendapatannya. Padahal, bagi orang-orang yang beriman, sama sekali tidak! Allah Ta’ala telah menegaskan hal ini dalam al-Qur’an.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Quran Surat Thaha [20] ayat 132).

Ayat ini, menurut Ibnu Katsir, justru memberi jaminan kepada orang-orang yang beriman bahwa rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak terduga jika kamu taat mengerjakan shalat. Ini semakna dengan apa yang disebutkan Allah Ta’ala dalam surat Ath-Thalaq [65].

ۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا

“… Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka…” (QS: Ath-Thalaq ayat 2 dan 3).

Puasa pada bulan Ramadhan juga berat bagi jiwa yang tertutupi hidayah. Betapa tidak, sesuatu yang halal dilakukan dan menyenangkan, tetiba dilarang oleh agama. Banyak yang tidak sabar melaksanakan perintah ini. Mereka pura-pura berpuasa di hadapan manusia, padahal tidak di hadapan Allah Ta’ala. Sampai-sampai Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”

Itu segelintir contoh betapa manusia merasa berat menjalankan perintah ibadah yang jelas-jelas termaktub dalam rukun Islam. Jika sekadar taat dalam menunaikan ibadah wajib saja sulit, apalagi taat menjalankan ibadaha-ibadah sunnah seperti membaca Al-Qur’an setiap hari, shalat lail setiap malam, berinfak setiap pagi, atau membaca dzikir pagi, sore, dan malam. Ini tentu lebih berat lagi.

Baca: Tak Ada Kesabaran dari Orang yang Frustasi

Padahal, tujuan hidup manusia tidak lain kecuali beribadah kepada Allah Ta’ala. Ini dinyatakan secara jelas oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur’an surat al-Zariyat [51] ayat 56, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” 

Memang, menapaki jalan lurus itu tak akan pernah mudah. Begitu banyak godaan dan tantangan. Cara terampuh menapaki jalan lurus adalah bersabar dalam ketaatan. Tak akan ada ketaatan tanpa kesabaran.

Allah Ta’ala telah menegaskan hal itu dalam Al-Qur’an Surat Ali Imron;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (Surat Ali Imron [3] ayat 200).

Al Hasan Al Basri, sebagaimana ditulis dalam Tafsir Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa ayat ini bermakna perintah untuk bersabar dalam ketaatan menjalankan perintah Allah Ta’ala, baik dalam keadaan suka maupun tidak, miskin maupun kaya, hingga ajal menjemput kita. Wallahu’alam.*

Sumber : www.hidayatullah.com