Putin Ajak Milisi Bersenjata Timur Tengah Ikut Berperang di Ukraina

Iklan Semua Halaman

Putin Ajak Milisi Bersenjata Timur Tengah Ikut Berperang di Ukraina

Thorif
Jumat, 11 Maret 2022


Presiden Rusia Vladimir Putin hari Jumat memerintahkan anak buahnya untuk membawa para pejuang dari Timur Tengah, “yang ingin mendukung” wilayah pemberontak Donbas, datang ke Ukraina. Berbicara pada pertemuan Dewan Keamanan Rusia di Moskow, Putin menjelaskan keputusannya menyusul kehadiran tentara bayaran Barat di zona perang di Ukraina.

“Mengenai pengumpulan tentara bayaran dari seluruh dunia dan mengirim mereka ke Ukraina, kami melihat bahwa mereka tidak menyembunyikannya, sponsor Barat Ukraina, rezim Ukraina, tidak menyembunyikan perekrutan tentara bayaran, mereka melakukannya secara terbuka, mengabaikan semua norma hukum internasional,” katanya dikutip Anadolu Agency.

Kebanyakan “sukarelawan” adalah orang-orang yang telah dibantu oleh Rusia melawan apa yang disebut kelompok Negara Islam (IS), kata Shoigu. Mereka diklaim ingin “berpartisipasi dalam apa yang mereka anggap sebagai gerakan pembebasan”, tambah Shoigu.

Sejak 2015, pasukan Rusia telah mendukung pemimpin keji, Presiden Bashar al-Assad melawan rakyatnya sendiri dan kelompok oposisi yang mengingnkan perubahan.  Suriah telah menjadi salah satu negara yang secara terbuka mendukung invasi Rusia ke Ukraina sejak awal.

Putin mengatakan kepada Shoigu bahwa Rusia harus membantu calon sukarelawan untuk “pindah ke zona pertempuran” bersama pasukan yang didukung Rusia di wilayah Donbas yang memisahkan diri di Ukraina timur.

“Jika Anda melihat ada orang yang ingin datang secara sukarela, bukan karena uang, dan mendukung orang yang tinggal di Donbas, ya, kita perlu datang untuk menemui mereka dan membantu mereka pindah ke zona perang,” kata Putin.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Sergey Shoygu mengatakan “republik pemberontak” mendapat sekitar 16.000 permintaan dari warga asing yang bersedia berperang di pihak mereka. Perang Rusia di Ukraina, yang dimulai pada 24 Februari, telah menimbulkan kemarahan internasional, dengan Uni Eropa, AS, dan Inggris, antara lain, menerapkan sanksi keuangan yang keras terhadap Moskow.

Orang-orang di seluruh dunia telah menunjukkan solidaritas mereka dengan Ukraina dengan cara yang berbeda, dengan mengirimkan obat-obatan, makanan, pakaian, mengumpulkan dana, sementara banyak yang menyatakan keinginan mereka untuk bergabung dengan tentara Ukraina untuk berperang melawan Rusia. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengatakan Kyiv telah menerima lebih dari 20.000 permohonan warga asing yang ingin berpartisipasi dalam konflik di pihak Ukraina.

Menurut data PBB, 549 warga sipil telah tewas dan 957 terluka di Ukraina sejak dimulainya perang, dengan jumlah korban sebenarnya dikhawatirkan lebih tinggi. Lebih dari 2,3 juta orang telah melarikan diri dari Ukraina ke negara-negara tetangga, data terbaru oleh badan pengungsi PBB menunjukkan.*

Rep: Ahmad
Sumber : www.hidayatullah.com