Lemah Iman Melahirkan Kekalahan

BANYAK di antara kaum muslim ingin hidup di bawah naungan Islam, namun kenyataanya, antara idealitas (cita-cita) dan realitas (fakta) di lapangan kehidupan jauh dari harapan karena banyak di antara mereka menjadi lemah iman.

Baik pada aspek ideologi, politik, sosial, pendidikan, kebudayaan, pertahanan keamanan, dll. Umat ini disamping tidak tahu menahu beberapa hal tentang agamanya, misalnya – tidak paham fikih janazah terhadap orang tuanya  sendiri – keberadaannya dijadikan mangsa bagi bangsa lain. Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga, umat Islam keluar dari mulut singa, masuk ke dalam mulut ular (Hadhrul ‘Alam Al Islami, Dr. Ali Garisah).

Kehadirannya bukan bagian dari solusi, tetapi bagian dari masalah. Wujuduhum ka ‘adamihim. Umat diselimuti dengan keterbelakangan, ketertindasan global, kemiskinan, ketertinggalan dalam berbagai aspek kehidupan. Demikian pula kemaksiatan yang demikian menggurita mengancam untuk menghilangkan identitas dan jatidiri mereka.

Untuk bangkit dari keterpurukannya, umat Islam perlu memelihara eksistensi/jatidirinya. Yakni energi keimanan, yang melahirkan ketaatan beribadah dan membuahkan akhlak yang terpuji, quwwatul Iman, quwwatul ibadah, quwwatul akhlak.

Ketiganya merupakan satu-kesatuan yang mustahil dipisah-pisahkan.  Inilah min ‘anashiril quwwah fil Islam (unsur-unsur kekuatan di dalam Islam). Semua kekuatan bermuara (berhulu dan berhilir) pada kekuatan iman.

Kekuatan iman,  memadukan kekuatan ilmu dan mengamalkannya. Keimanan yang tidak bekerja sebagaimana mestinya, identik menyiapkan umat ini untuk dijajah (qabiliyyah littaghallub).

Iman adalah sumber energi jiwa yang senantiasa mendorong kita untuk bergerak melakukan tugas sosial. Yaitu al amru bil makruf wan nahyu ‘anil mungkar. Iman adalah gelora yang menginspirasi jiwa kita sehingga melahirkan bashirah (mata batin).

Iman adalah cahaya menerangi hati dan pikiran kita maka lahirlah takwa. Selalu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Selalu mensyukuri karunia Allah dan tidak mengingkari  nikmat-Nya.

Iman menghadirkan seseorang selalu mengingat Allah dan tidak melupakan-Nya. Iman adalah zadur ruhi yang menjalar ke seluruh tubuh, maka lahirlah gerakan (harakah), menenteramkan perasaan, dan menguatkan tekat dan menggerakkan raga kita.

Iman juga bisa merubah individu menjadi shalih dan mushlih. Kebaikan individu yang menjalar kepada masyarakat, melahirkan sikap ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta’athuf (saling menghargai), tarahum (berbagi kasih sayang), ta’awun (saling menolong), takaful (saling menanggung). Sehingga mereka menjadi akrab, dekat, dan erat. Yang kaya diantara mereka menjadi dermawan, yang miskin menjaga diri, yang jadi pejabat mengayomi, melindungi dan bersikap adil kepada rakyat.

Sebaliknya, komunitas yang lahir bukan dari bahan baku keimanan, manusia menjadi serigala bagi yang lain. Ada kesenjangan sosial yang tajam, hanya karena atribut lahiriyah. Yang berkuasa menindas kalangan bawah. Yang kaya merendahkan yang miskin, yang pandai membodohi yang bodoh, yang berkuasa dan yang  berharta, dijadikan bulan-bulanan oleh syetan dan iblis.

Ibadah seharusnya menjadi sumber keshalehan dan kedamaian. Ilmu menjadi sumber kekuatan dan kemudahan dan kreasi seni mereka menjadi sumber inspirasi dan menambah spirit kehidupan.

Mengapa Bilal bin Rabah dapat bertahan dibawah tekanan batu karang raksasa dengan terik matahari padang pasir yang membakar tubuh? Mengapa pula ia yang tadinya hanyalah seorang budak bisa berubah menjadi pembesar Islam?

Ada juga Abu Bakar yang lembut menjadi sangat keras dan tegar saat perang melawan kaum murtaddin yang dipimpin Musailamah Al Kadzdzab? Mengapa pula Umar bin Khathab yang temperamental tiba-tiba menjadi seorang terhormat yang dengan sukarela rela memanggul gandum ke rumah seorang perempuan miskin?

Mengapa Khalid bin Walid yang dijuluki saifullah al maslul (si pedang terhunus) justru lebih menyukai malam-malam dingin dalam medan jihad fi sabilillah daripada seorang wanita cantik di malam pengatin? Dan mengapa Utsman bin Affan bersedia menginfakkan seluruh harta kekayaannya, bahkan problem mendanai sebuah perang sulit (jaisyul ‘usrah) di Perang Tabuk? Jawaban untuk semua pertanyaan itu: IMAN.

Sejarah Islam sepanjang lima belas abad ini mencatat dengan tinta emas, kaum muslimin meraih berbagai kemenangan dalam peperangan-peperangan, menciptakan kemakmuran dan keadilan, mengembangkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan (ulum wa funun) dalam peradaban. Apakah yang membuat mereka meraih semua itu? Itulah saat dimana iman mewarnai dan menata ulang (merekonstruksi) seluruh aspek setiap individu muslim dan mewarnai seluruh sektor kehidupan.

Tetapi, sejarah juga menorehkan luka yang amat dalam. Pasukan Tartar membantai 80.000 kaum muslimin di Baghdad, Pasukan Salib menguasai Al-Quds selama 90 tahun, surga Andalus hilang dari genggaman kaum muslimin selama 800 tahun dan direbut kembali kaum salib, Kekhalifahan Utsmani di Turki dilengserkan oleh gerakan Zionis Internasional pada malam hari tahun 1924.

Apakah semua faktor pemicu kehancuran dan kekalahan di atas?  Jawabanya jika iman hanya menjadi buah bibir, tidak menjelma di dalam jiwa dan pikiran, tidak mampu memberi vitalitas, stamina, dan dinamika dalam kehidupan, lalu tenggelam dalam lumpur syubhat dan syahwat, maka, kekuasaan hanya akan melahirkan kezaliman, orang kaya menjadi pelit, orang miskin menjadi tidak tahu diri,  karyawan menjadi pengkhianat, dan tentara telah kehilangan nyalinya.

Syaikh Abul Hasan Ali Al Hasani An Nadwi dalam kitabnya “Muqawwimat Al Iman” mengatakan, ”Saat kejayaan adalah saat eksisnya iman dan saat kekalahan, keruntuhan adalah saat hilangnya kekuatan iman. Sebagaimana iman menciptakan keajaiban di alam jiwa, seperti itu juga ia menulis cerita keajaiban dan kejutan-kejutan di alam kenyataan.

Gelora di dalam jiwa pun menjelma menjadi prestasi-prestasi sejarah. Ketika keimanan tidak diberi ruang untuk bekerja sebagaimana mestinya (mengalami disfungsi),  sama dengan menyediakan diri untuk dijajah (qabiliyyah littaghallub).

Demikianlah, jelas sudah apa yang sedang dan akan dibutuhkan umat ini untuk bangkit dari keterpurukannya dan bangun untuk memelihara eksistensi dan identitas dirinya. Tidak ada yang lain, kecuali satu jalan, mempertemukan umat dengan sumber energinya, yakni kekuatan iman.

Itulah problem krusial kita hari ini! Bahwa ada banyak kabut yang menyelimuti/menghalangi persepsi (tashawwur) kita tentang hakikat keimanan.

Kesalahan dan kekeliruan ini membuat kita perlu berfikir, merenung bahkan perlu menyusun kurikulum keimanan. Sebab iman yang lemah (adh’aful iman) tidak akan memberikan inspirasi pada pikiran, tidak melahirkan cahaya dalam jiwa, tidak menggerakkan tekat dan raga.

Efeknya seseorang tidak mampu bekerja menyemai kebaikan dan kebenaran di taman kehidupan. Karenanya, tidak ada keajaiban di alam jiwa, dan tidak akan terangkai keajaiban itu dalam sejarah dan peradaban kita. Wallahu a’lam.*/Sholeh Hasyim

Rep: Admin Hidcom
Sumber : www.hidayatullah.com

0 Response to "Lemah Iman Melahirkan Kekalahan"

Posting Komentar