Bi’ah Lughawiyah, Jalan Menghidupkan Warisan Ilmu Islam di Pesantren Hidayatullah

Iklan Semua Halaman

Bi’ah Lughawiyah, Jalan Menghidupkan Warisan Ilmu Islam di Pesantren Hidayatullah



YOGYAKARTA — Bahasa Arab bukan sekadar alat komunikasi, tetapi bagian penting dari identitas keilmuan Islam. Selama lebih dari 15 abad, Bahasa Arab menjadi penghubung antara generasi umat Islam hari ini dengan warisan keilmuan, budaya, dan sejarah peradaban Islam.


Semangat inilah yang menjadi salah satu pesan dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Bi’ah Lughawiyah serta Upgrading Mu’allim Bahasa Arab Pesantren Hidayatullah wilayah DIY–Jawa Tengah Bagian Selatan yang digelar di Kampus Madya Yayasan As-Sakinah Hidayatullah Yogyakarta, Ahad (14/6/2026).


Kegiatan yang diselenggarakan Departemen Kepesantrenan DPW Hidayatullah DIY–Jawa Tengah Bagian Selatan tersebut menjadi forum evaluasi, penguatan kapasitas pendidik, sekaligus penyusunan strategi pengembangan lingkungan berbahasa Arab di pesantren.


Anggota Tim Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah, Ustadz Muhammad Dinul Haq, Lc., dalam penyampaian materinya menegaskan bahwa Bahasa Arab memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan umat Islam karena menjadi bahasa Al-Qur’an dan sumber utama khazanah keislaman.


Beliau mengutip sebuah ungkapan:

"تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ كَمَا تَتَعَلَّمُونَ حِفْظَ الْقُرْآنِ"

"Pelajarilah bahasa Arab sebagaimana kalian mempelajari hafalan Al-Qur’an."


Menurutnya, pesan tersebut menggambarkan pentingnya menempatkan pembelajaran Bahasa Arab sebagai bagian dari kesungguhan seorang Muslim dalam mendekati sumber-sumber ajaran Islam.


“Sejak 15 abad, bahasa Arab menjadi inti jati diri Islam yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu. Ia memuat warisan budaya dan sejarah umat terbaik,” ungkapnya.


Ia menjelaskan bahwa Bi’ah Lughawiyah merupakan fondasi penting bagi generasi baru agar mampu berinteraksi dengan warisan keilmuan Islam sekaligus memperdalam pemahaman terhadap ilmu pengetahuan Islam.


“Terbangunnya lingkungan bahasa Arab dalam keseharian dan akademik membuka peluang luas untuk berkontribusi dalam membangun peradaban Islam,” tuturnya.


Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Muhammad Dinul Haq juga menekankan bahwa membangun lingkungan berbahasa Arab bukan sesuatu yang sulit apabila dilakukan dengan metode yang tepat dan kesungguhan bersama.


Ia mencontohkan bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan perhatian terhadap penguasaan bahasa asing. Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu pernah diperintahkan Nabi untuk mempelajari bahasa lain dalam rangka memenuhi kebutuhan dakwah dan khidmah untuk agama.


“Semangat yang perlu ditransmisikan kepada generasi hari ini adalah menghadirkan metode pembelajaran Bahasa Arab yang terstruktur, terukur, menarik, dan berhasil,” pesannya.


Sementara itu, Ketua Departemen Kepesantrenan DPW Hidayatullah DIY–Jawa Tengah Bagian Selatan, Ustadz Jundi Iskandar, Lc., menegaskan bahwa Bi’ah Lughawiyah harus menjadi salah satu ciri khas sekaligus keunggulan utama Pesantren Hidayatullah dalam ikhtiar membangun peradaban Islam.


“Untuk itu, seluruh perangkat pendidikan dan pengasuhan harus bersinergi dan bermujahadah menghadirkannya secara nyata, hidup, dan berkelanjutan,” tegasnya.


Kegiatan Monev dan Upgrading ini juga menjadi ruang berbagi praktik baik antar pesantren, mengevaluasi implementasi program, serta menyusun rekomendasi dan rencana tindak lanjut penguatan Bi’ah Lughawiyah di wilayah DIY–Jawa Tengah Bagian Selatan.


Melalui penguatan lingkungan bahasa dan peningkatan kompetensi para mu’allim, Pesantren Hidayatullah diharapkan mampu menghadirkan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan komunikasi Bahasa Arab, tetapi juga memiliki kedekatan yang kuat dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan khazanah ilmu Islam.[]